RSS

RENIN

Renin (bahasa Inggris: renin, angiotensinogenase) adalah enzim yang disekresi oleh ginjal yang berperan dalam l intasan metabolisme sistem RAA (Renin-Angiotensin-Aldosteron) yang mengendalikan tekanan darah dan kadar air dalam tubuh dengan mengatur volume ekstraselular dari plasma darah, cairan tubuh, cairan limfatik dan vasokonstriksi arteri.

 

 

 

 

see more :

  1. ^ Phillips, MI.; Schmidt-Ott, KM. (Dec 1999). “The Discovery of Renin 100 Years Ago.”. News Physiol Sci 14: 271-274. PMID 11390864.
  2. ^ Tigerstedt, R.; Bergman, P. (1898). “Niere und Kreislauf”. Scandinavian Archives of Physiology 8: 223-271.
  3. ^ Imai T, Miyazaki H, Hirose S, et al. (December 1983). “Cloning and sequence analysis of cDNA for human renin precursor”Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 80 (24): 7405–9.doi:10.1073/pnas.80.24.7405PMID 6324167PMC 389959.

 

 
Tinggalkan komentar

Posted by pada Februari 26, 2011 in Uncategorized

 

Mekanisme Kerja Obat Antihipertensi Terhadap Timbulnya Xerostomia

Mekanisme Kerja Obat Antihipertensi Terhadap Timbulnya Xerostomia

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit sepertiga terbesar dari seluruh kematian di dunia, dan hipertensi merupakan faktor resiko yang paling besar terhadap prevalensi penyakit kardiovaskuler. Ada beberapa cara pendekatan yang sering dilakukan kepada penderita penyakit hipertensi yaitu dengan cara memodifikasi gaya hidup dan dengan cara menggunakan obat antihipertensi. Pendekatan pada penderita hipertensi dapat melalui modifikasi gaya hidup dengan mempertahankan berat badan normal, diet rendah garam dan lemak jenuh, makan buah dan sayuran, kurangi rokok dan alkohol, serta meningkatkan aktivitas fisik dengan cara berolahraga. Selain itu penderita hipertensi juga dapat menggunakan pendekatan melalui obat anti hipertensi dengan memperhatikan umur, ras, riwayat penyakit, merokok, obesitas, serta harus mempertimbangkan apabila ada penyakit diabetes, ginjal, gagal jantung dan jantung iskemik. (Hadyanto 2009)

Obat-obatan antihipertensi dapat mempengaruhi aliran saliva secara langsung dan tidak langsung. Bila secara langsung akan mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem syaraf autonom atau dengan bereaksi pada proses seluler yang diperlukan untuk saliva. Stimulasi saraf parasimpatis menyebabkan sekresi yang lebih cair, sedangkan saraf simpatis memproduksi saliva yang lebih sedikit dan kental. Sedangkan secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar. (Hadyanto 2009)

Penggunaan obat-obatan antihipertensi yang kurang tepat sering menimbulkan keluhan mulut kering, dimana sering disebut sebagai penyakit xerostomia. Xerostomia merupakan kekeringan pada mulut akibat disfungsi kelenjar saliva. Mulut kering dapat meningkatkan kejadian kerusakan gigi terutama di bagian akar gigi, karena berkurangnya saliva merupakan faktor predisposisi pada penambahan insiden karies, penyakit periodontal, dan infeksi oral, terutama kandidosis. Xerostomia bukanlah suatu diagnosis, namun merupakan suatu gejala yang kemungkinan dapat terjadi dengan berbagai penyebab, seperti efek samping obat-obatan, demam, diare, diabetes, gagal ginjal, berolahraga, stres, bernafas melalui mulut, kelainan syaraf, usia, radiasi pada daerah leher dan kepala, dan gangguan lokal pada kelenjar saliva. Obat-obatan adalah penyebab paling umum berkurangnya saliva, dan obat antihipertensi termasuk salah satu golongan obat yang dapat menyebabkan efek samping berupa xerostomia. Oleh karena itu sangat penting mengetahui dan mengenal jenis obat antihipertensi. (Fox 2008)

 

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas muncul permasalahan yaitu “ bagaimana pengaruh obat antihipertensi terhadap timbulnya xerostomia ? ”.

 

C. Tujuan Penulisan

Mengetahui pengaruh obat antihipertensi terhadap timbulnya xerostomia.

 

D. Manfaat Penulisan

1. Menambah pengetahuan pembaca mengenai obat antihipertensi.

2. Menambah pengetahuan pembaca mengenai xerostomia.

3. Mengetahui reaksi obat antihipertensi terhadap terjadinya xerostomia.

 

BAB II

XEROSTOMIA

A. Definisi Xerostomia

Xerostomia adalah keluhan berupa adanya rasa kering dalam rongga mulutnya akibat adanya penurunan produksi saliva (hiposalivasi) atau perubahan komposisi saliva. Apabila terjadi kelainan pada kelenjar saliva mayor dan minor dapat menimbulkan penyakit xerostomia. Air liur yang sering disebut saliva berasal dari kelenjar-kelenjar saliva yang terdapat di rongga mulut. Kelenjar saliva terdiri atas kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri dari 3 pasang kelenjar yaitu kelenjar saliva parotis, submandibularis, dan sublingualis yang terletak di sekitar daerah leher. Sedangkan kelenjar saliva minor tersebar di seluruh mukosa mulut. (Lewis 1998)

 

B. Etiologi Xerostomia

Banyak orang mengeluh mulutnya kering walaupun kelenjar saliva mereka berfungsi dengan normal. Xerostomia sejati dapat disebabkan oleh penyakit kelenjar saliva primer atau manifestasi sekunder dari suatu kelainan sistemik atau terapi obat. (Lewis 1998)

Xerostomia terjadi ketika jumlah air liur yang menggenangi selaput lendir mulut berkurang. Output air liur diperkirakan satu liter per hari. Kekurangan air liur atau kekeringan oral dapat dipercepat oleh dehidrasi mukosa oral yang terjadi saat output oleh kelenjar saliva mayor, kelenjar saliva minor dan lapisan air liur yang menutupi mukosa oral berkurang. (Guggenheimer 2003)

Xerostomia juga sering terjadi akibat penurunan volume atau perubahan komposisi saliva (menjadi pekat, penurunan pH dan kehilangan komponen          organik–inorganik). Ada beberapa penyebab xerostomia seperti bernapas melalui mulut (False dry mouth), dehidrasi, kandidiasis oral, febris, infiltrasi pada kelenjar saliva, hiperkalsemia, radioterapi kepala leher. Penyebab lain : seperti depresi (False dry mouth), diabetes mellitus, diabetes insipidus, hipotiroidisme. (Indriyani 2010)

Penyebab paling lazim xerostomia adalah obat. Lebih dari 400 obat yang pada umumnya digunakan dapat menyebabkan xerostomia. Jenis obat yang dapat menyebabkan xerostomia antara lain seperti antihipertensi, antihistamin, antidepresan, antikolinergik, anorexiants, antipsikotik, agen anti-Parkinson, diuretik dan obat penenang. Pasien yang mengeluh xerostomia harus diwawancarai dan obat-obatan yang mereka pakai harus ditinjau ulang seperti dengan mengubah obat atau dosis untuk memberikan peningkatan aliran saliva. (University of Montana 2010)

 

C. Tanda Klinis Xerostomia

Diagnosis xerostomia didasarkan pada bukti yang diperoleh dari riwayat pasien, pemeriksaan rongga mulut atau sialometry yang merupakan prosedur sederhana untuk mengukur laju aliran saliva. Beberapa tes dan teknik dapat digunakan untuk memastikan fungsi kelenjar ludah. Dalam tes sialometry, perangkat pengumpulan saliva ditempatkan di atas kelenjar parotid atau submandibular. (University of Montana 2010)

Pada pemeriksaan, pasien dengan xerostomia biasanya memiliki tanda-tanda sebagai berikut: Bibir pecah-pecah, mengelupas dan atropik (mukosa bukal pucat dan bergelombang) dan lidah halus dan memerah (Gambar 2.1), lalu mukosa oral tampak merah, tipis dan rapuh. Sering kali ada peningkatan tajam dalam erosi dan gigi karies, khususnya pada gingival margin, bahkan sampai melibatkan ujung cups (Gambar 2.2). (Guggenheimer 2003)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(Gambar 2.1)                                                                                 (Gambar 2.2)

Evaluasi klinis harus mencakup keseluruhan kesan penderita xerostomia, serta evaluasi dari kelenjar ludah, jaringan lunak dan jaringan keras. Dokter gigi harus memberikan perhatian khusus kepada pasien secara fisik dan emosional. (Navazesh 2003)

Penderita xerostomia sering mengeluh masalah dengan makan, berbicara, menelan dan memakai gigi palsu. Penderita xerostomia sering mengeluh kesulitan untuk mengunyah dan menelan makanan seperti sereal dan kerupuk. Penderita yang memakai denture mungkin akan mengalami masalah dengan retensi gigi tiruan, luka akibat gigi tiruan dan lidah menempel pada langit-langit. Penderita dengan xerostomia akan sering mengeluh mengenai gangguan rasa (dysgeusia), lidah yang menyakitkan (glossodynia) dan kebutuhan yang meningkat untuk minum air, terutama pada malam hari. (University of Montana 2010)

 

D. Frekuensi Penyebaran Xerostomia

Xerostomia sering merupakan masalah kesehatan ringan dan serius. Hal ini dapat mempengaruhi gizi, kesehatan gigi, serta psikologis seseorang. Beberapa masalah umum yang terkait dengan xerostomia termasuk sakit tenggorokan yang persisten, sensasi terbakar (burning mouth syndrome), kesulitan berbicara dan menelan, suara serak dan jika tidak diobati dapat menurunkan pH saliva dan secara signifikan dapat meningkatkan plak dan karies pada gigi. (University of Montana 2010)

Mulut kering dapat meningkatkan kejadian kerusakan gigi, karena berkurangnya saliva merupakan faktor predisposisi pada peningkatan insiden karies, penyakit periodontal, dan infeksi oral terutama kandidosis. Informasi mengenai gizi harus diberikan, terutama mengenai pembatasan konsumsi gula. (Lewis 1998)

 

E. Penanggulangan Xerostomia

Penderita xerostomia harus didorong untuk mengambil peran aktif dalam pengelolaan xerostomia. Pasien harus didorong untuk melakukan pemeriksaan mulut sehari-hari, memeriksa bercak merah, putih atau gelap, borok atau kerusakan gigi.    Jika ada sesuatu yang tidak biasa yang ditemukan, maka harus dilaporkan kepada dokter gigi. Pasien juga harus diberi konseling untuk menyikat secara teratur minimal dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung fluoride dan sikat gigi berbulu lembut. Stimulan saliva atau sialagogues, seperti permen tanpa gula dan permen karet, dapat digunakan untuk merangsang aliran air liur ketika kelenjar liur tetap fungsional. (University of Montana 2010)

Beberapa pengganti saliva, baik metil selulosa atau mucin, dapat memperbaiki efek berkurangnya saliva. Sialogues, seperti gliserin dan preparat lemon, hanya boleh diberikan pada pasien yang tak bergigi karena penggunaan yang terlalu sering dapat menimbulkan karies gigi pada pasien yang masih bergigi. Pembersihan gigi yang teliti dan pemberian zat-zat preventif seperti terapi fluoride secara topikal harus diberikan. (Lewis 1998)

 

BAB III

OBAT ANTIHIPERTENSI

A. Obat Antihipertensi

Penyakit kardiovaskuler merupakan penyakit terbesar hampir sepertiga dari seluruh kematian di dunia, dan hipertensi merupakan faktor resiko yang paling besar terhadap prevalensi penyakit kardiovaskuler. Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah arterial diatas nilai normal tekanan darah, dimana tekanan darah normal 120/80 mmHg, sedangkan hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas. (Hadyanto 2009)

Ada beberapa cara pendekatan yang sering dilakukan kepada penderita penyakit hipertensi yaitu dengan cara memodifikasi gaya hidup dan dengan cara menggunakan obat antihipertensi. Pemilihan obat antihipertensi perlu memperhatikan umur, riwayat penyakit kardiovaskuler, adanya penyakit ginjal, penyakit gagal jantung iskemik, stroke, dan diabetes. Tujuan utama dalam pendekatan terapi obat antihipertensi adalah untuk mendapatkan efek terapeutik seperti menurunkan curah jantung, menurunkan volume darah, dan menurunkan resistensi perifer. (Hadyanto  2009)

 

B. Klasifikasi Obat Antihipertensi

1. Diuretik

Diuretik adalah obat yang bekerja untuk meningkatkan volume urine pada ginjal, karena menyebabkan ekskresi natrium dan mengurangi volume cairan dengan menghambat transport elektrolit didalam tubulus renal sehingga deuritik juga disebut sebagai natriuretik. Diuretik yang paling sering digunakan adalah diuretik tiazid, diuretik loop, dan antagonis reseptor aldosteron. (Olson 2003)

Obat golongan tiazid bekerja dengan menghambat transport bersama Na-Cl di tubulus distal ginjal, sehingga ekskresi Na+ dan Cl- meningkat. Deuritik loop bekerja dengan cara menghambat kotransport Na+, K+, Cl- dan menghambat resorbsi air dan elektrolit. (Hadyanto  2009)

 

2. Simpatolitik

Sistem saraf simpatis memegang peranan penting dalam mengatur tekanan darah. Simpatolitik memegang peranan penting dalam menurunkan tekanan darah melalui hambatan terhadap pusat vasomotor di otak dengan mengurangi tonus simpatis secara sentral. Secara perifer simpatolitik dapat bekerja terhadap neurotransmiter pada ganglion presinaptik atau postsinaptik, atau pada reseptor epinefrin dan norepineprin. (Schmitz 2008)

Simpatolitik yang sering digunakan dalam pengobatan hipertensi meliputi antagonis reseptor adregenil-β dan agonis reseptor α2 yang bekerja di sentral. Antagonis reseptor adregenik  yang digunakan dalam pengobatan awal hipertensi adalah golongan antagonis reseptor adregenik-β (β – blocker). α – blocker hanya digunakan pada pasien hipertensi disertai dengan hyperplasia prostat benigna. Obat jenis simpatolitik ini bekerja dengan cara blokade AV, menghambat nodus SA dan menurunkan kekuatan kontraksi miokard, menghambat pelepasan renin, menghambat produksi angiotensin II. (Schmitz 2008)

 

3. Penghambat Angiotensin

Penghambat angiotensin termasuk ACE inhibitor dan angiotensin receptor blocker (ARB). Obat ini digunakan untuk pengobatan hipertensi dengan penyakit kardiovaskuler dan diabetes. (Hadyanto 2009)

ACE inhibitor dapat digunakan menurunkan tekanan darah dengan menghambat konvensi angiotensin I menjadi angiotensin II. Angiotensin inhibitor dapat menurunkan kadar angiotensin II plasma dan berperan dalam sejumlah respon yang dapat meningkatkan tekanan atrial dan fungsi renal. (Hadyanto 2009)

Angiotensin receptor blocker (AT1 Antagonis) bekerja menduduki reseptor AT1 di pembuluh darah atau jaringan lain. Penghambat ini mengurangi efek fisiologik angiotensin. Efek hipotensif ARB sebanding dengan ACE inhibitor, tetapi jarang menimbulkan batuk kronik dibandingkan dengan ACE inhibitor. Karena itu toleransi ARB lebih baik. (Schmitz 2008)

 

4. Vasodilatator atau Calcium Channel Blockers (CCB)

Mekanisme utama CCB adalah menghambat masuknya ion  melalui voltage-dependent L dan calsium channel type-T. L type  banyak terdapat di otot jantung dan otot polos vaskuler. Hambatan terhadap otot jantung menyebabkan efek inotropik negatif, dan terhadap otot polos menyebabkan relaksasi. Dengan efek mengurangi kontraktilasi miokard dan otot polos, obat ini dapat digunakan sebagai obat antihipertensi dan antiangina, juga menyebabkan depresi miokard. CCB bekerja dengan cara menghambat influks kalsium pada otot polos pembuluh darah dan miokard. Jenis obat CCB seperti Hidralazin, Minoksidil, dan Nitroprusid. (Hadyanto 2009)

Hidralazin terutama bekerja pada arteri dan arteriole, menimbulkan penurunan tekanan darah dengan menginduksi vasodilatasi pada artiole otot polos. Efek ini disertai dengan refleks takikardi dan kenaikan curah jantung. Manfaat utama adalah untuk pengobatan hipertensi dan gagal jantung. (Schmitz 2008)

Monoksidil, merupakan obat vasodilatator yang sangat poten. Merupakan pilihan akhir pada pengobatan hipertensi berat yang tidak responsif terhadap obat antihipertensi lainnya. Monoksidil sering digunakan bersamaan dengan diuretik karena menyebabkan retensi cairan, juga menyebabkan refleks takikardi sehingga dikombinasikan dengan golongan β – blocker. (Olson 2003)

Nitroprusid di metabolisme menjadi nitric oxide, yang selanjutnya mengaktivasi guanylatecyclase dan terbentuk cyclic GMP. Pembentukan cGMP mengakibatkan relaksasi otot polos vaskuler dan vasodilatasi. Aktivasi nitroprusid di katalisis oleh berbagai nitric oxide sehingga potensi obat ini berbeda pada berbagai tempat vaskuler dan hal ini menyebabkan tidak terjadi toleransi pada penggunaan nitroprusid. (Olson 2003)

 

C. Indikasi, kontraindikasi dan efek obat antihipertensi

Berdasarkan klasifikasi obat antihipertensi yang telah dibahas, tentunya obat antihipertensi juga  memiliki merek dagang, mekanisme kerja obat, indikasi, dan kontra indikasi dan efek obat yang tidak diinginkan seperti berikut ini :

 

Tabel 3.1 (Deuritik)

GolonganObat Merek dagang Indikasi Kontraindikasi Efek tak diharapkan
Tiazid Hydrodiuril Ideal untuk hipertensi, dan edema-kronik Ibu hamil, anuria Hipokalemia,Hiperglikemi,Oliguria, anuria, hiperkalsemia
Loop diuretic Lasik (furosemid) Untuk darurat hipertensi, edema, dan edema paru Kekurangan elektrolit, anuria Dehidrasi, hipokalemia, hiperglikemi, hipovolemia
Antagonis reseptor aldosteron Midamor (amilorid) Dapat mengoreksi alkalosis metabolik Hiperkalemia berat dengan suplemen kalsium Hiperkalemia, kekurangan natrium atau air

 

Tabel 3.2 (Simpatolitik)

GolonganObat Merek dagang indikasi kontraindikasi Efek tak diharapkan
α – blocker Klonidin (Catapresan) Baik untuk hipertensi Bradikardi,hipotensi,sindrom simpul sinus Mulut kering, hipotensi, bradikardi, sedasi
β – blocker Atenolol (Tenormin) Baik untuk hipertensi ringan dan sedang Diabetes berat, bradikardi, gagal jantung, asma Depresi dan sedasi susunan saraf pusat

 

Tabel 3.3 (Penghambat Angiotensin)

GolonganObat Merek dagang indikasi kontraindikasi Efek tak diharapkan
ACE inhibitor Kaptopril(Capoten) Hipertensi dengan renin tinggi, Hipotensi, pusing, ruam, takikardi
ARB Losartan  (Lozaar) Hipertensi esensial Gangguan fungsiginjal, anak-anak, kehamilan, masa menyusui Vertigo, ruam kulit, gangguan ortostatik

 

Tabel 3.4 (Vasodilatator)

GolonganObat Merek dagang indikasi kontraindikasi Efek tak diharapkan
Hidralazin Apresoline Hipertensi sedang Penyakit jantung iskemik Retensi cairan, palpitasi, refleks takikardi
Monoksidil Loniten Hipertensi yang belum terkontrol Penyakit jantung iskemik Lesi otot jantung, hidralazin, hirsutisme,
Nitroprusid Nipride Krisis hipertensi Hipotensi berat, hepatotoksisitas

D. Pengaruh obat antihipertensi terhadap proses terjadinya penyakit xerostomia

Obat antihipertensi dapat mempengaruhi aliran saliva secara langsung dan tidak langsung. Bila secara langsung akan mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem syaraf autonom atau dengan bereaksi pada proses seluler yang diperlukan untuk saliva. Stimulasi saraf  parasimpatis menyebabkan sekresi yang lebih cair dan saraf simpatis memproduksi saliva yang lebih sedikit dan kental. Sedangkan secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar. (Hadyanto 2009)

 

Gambar 3.1

Sumber : http://gurungeblog.wordpress.com/category/sistem-koordinasi-dan-indera/

(Gambar 3.1) Sistem saraf autonom mengatur setiap kegiatan yang terjadi di dalam tubuh manusia dimana seluruh sistem saraf saling berkaitan satu sama lain pada saat tubuh dalam keadaan normal ataupun saat tubuh terjadi suatu masalah.

 

Hal ini dapat diketahui melalui cara kerja obat antihipertensi seperti pada diuretik tiazid misalnya hidroklorotiazid dengan menghambat reabsorpsi natrium dan klorida dalam pars asendens ansa henle tebal dan awal tubulus ginjal yang mengakibatkan meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Obat ini secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar. (Olson 2003)

 

Gambar 3.2

Sumber : http://b-mus.blogspot.com/2010/05/ukuran-ginjal-kunci-sukses.html

(Gambar 3.2) Mekanisme kerja obat diuretik secara umum bekerja pada daerah nepron untuk meningkatkan volume urine pada ginjal. Gambar ini merupakan proses perjalanan obat antihipertensi yang diserap oleh tubuh yang dihantarkan oleh darah.

 

Pada mekanisme kerja loop diuretik seperti furosemid akan menghambat reabsorpsi klorida dalam pars asendens ansa henle tebal yang mengakibatkan ion kalium banyak hilang kedalam urin. Selain itu pada membran luminal dari jerat henle bagian asenden, furosemid akan menghambat suatu protein transpor spesifik seperti natrium, kalium dan klorida yang mengakibatkan absorpsi ion-ion tersebut akan berkurang. Hal ini tentunya akan mengganggu keseimbangan elektrolit yang beredar di dalam tubuh dan secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva. (Hadyanto 2009)

Pada mekanisme kerja diuretik antagonis reseptor aldosteron seperti midamor akan meningkatkan ekskresi  dan menurunkan sekresi  dalam tubulus kontortus distal, sehingga mengakibatkan absorbsi  dari lumen sel-sel tubulus akan berkurang. Ini tentunya akan mengganggu keseimbangan elektrolit yang beredar di dalam tubuh dan secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva. (Olson 2003)

Gambar 3.3

Sumber : http://prastiwisp.wordpress.com/

(Gambar 3.3) Tempat bereaksinya obat antihipertensi tipe diuretik pada ginjal.

Mekanisme kerja Simpatolitik α – blocker seperti klonidin bekerja pada susunan saraf dengan mengurangi rangsangan saraf simpatis yang di mediasi oleh aktivasi reseptor adregenik-α2 di susunan saraf pusat. Obat ini secara langsung akan mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem syaraf autonom atau dengan bereaksi pada proses seluler yang diperlukan untuk saliva dimana saraf simpatis memproduksi saliva yang lebih sedikit dan kental. (Schmitz 2008)

Mekanisme kerja Simpatolitik β – blocker seperti atenolol akan bekerja di susunan saraf pusat dengan mengurangi tonus simpatis sehingga pada jantung akan mengurangi denyut jantung dan curah jantung, pada ginjal akan mengurangi produksi renin yang dapat menyebabkan kenaikan tekanan darah, dan pada kelenjar saliva akan mempengaruhi produksi saliva menjadi sedikit dan lebih kental. (Hadyanto 2009)

Gambar 3.4

Sumber : http://gurungeblog.wordpress.com/category/sistem-koordinasi-dan-indera/

(Gambar 3.4) Tempat bereaksinya obat antihipertensi tipe Simpatolitik pada susunan saraf pusat.

ARB memiliki mekanisme kerja dengan cara berinteraksi dengan asam amino pada domain transmembran, yang dapat mencegah angiotensin II untuk berikatan dengan reseptornya. Antagonisme terhadap angiotensin II ini secara langsung akan menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah, penurunan produksi vasopresin, dan mengurangi sekresi aldosteron. Tiga efek ini secara bersama-sama akan menyebabkan penurunan tekanan darah, air, glukosa, dan garam dalam darah. Obat ini secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit. (Schmitz 2008)

 

Gambar 3.5

Sumber : http://kkni.blogspot.com/

(Gambar 3.5) gambar diatas adalah proses terjadinya hipertensi dan tempat bereaksinya obat antihipertensi tipe angiotensin inhibitor mencegah terjadinya angiotensin II.

“Angiotensin Converting Enzyme” (ACE), dapat merubah angiotensin I menjadi angiotensin II yang bersifat aktif dan merupakan vasokonstriktor endogen serta dapat menstimulasi sintesa dan sekresi aldosteron dalam korteks adrenal. Peningkatan sekresi aldosteron akan mengakibatkan ginjal meretensi natrium dan cairan, serta meretensi kalium yang merupakan penyebab hipertensi. Angiotensin inhibitor dapat menurunkan kadar angiotensin II plasma dengan cara menghambat kerja ACE. Dalam kerjanya, Angiotensin inhibitor akan menghambat kerja ACE, akibatnya pembentukan angiotensin II terhambat, timbul vasodilatasi, penurunan sekresi aldosteron sehingga ginjal mensekresi natrium dan cairan serta mensekresi kalium. Obat ini secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit. (Hadyanto 2009)

CCB bekerja dengan cara menghambat influks kalsium pada otot polos pembuluh darah dan miokard. Kalsium merupakan unsur organis saliva, bila influks kalsium pada otot pembuluh darah dihambat secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar. (Hadyanto 2009)

 

BAB IV

PEMBAHASAN

Xerostomia bukanlah suatu diagnosis, namun merupakan suatu gejala yang kemungkinan dapat terjadi dengan berbagai penyebab, seperti efek samping obat-obatan, demam, diare, diabetes, gagal ginjal, berolahraga, stres, bernafas melalui mulut, kelainan syaraf dan usia. Xerostomia juga sering terjadi akibat penurunan volume atau perubahan komposisi saliva (menjadi pekat, penurunan pH dan kehilangan komponen organik – inorganik). Penyebab paling lazim xerostomia adalah obat. Jenis obat yang dapat menyebabkan xerostomia antara lain seperti antihipertensi, antihistamin, antidepresan, antikolinergik, anorexiants, antipsikotik, agen anti-Parkinson, diuretik dan obat penenang.

Obat-obatan adalah penyebab paling umum berkurangnya saliva, dan obat antihipertensi termasuk salah satu golongan obat yang dapat menyebabkan efek samping berupa xerostomia. Obat antihipertensi dapat mempengaruhi aliran saliva secara langsung dan tidak langsung. Bila secara langsung akan mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem syaraf autonom atau dengan bereaksi pada proses seluler yang diperlukan untuk saliva. Stimulasi saraf  parasimpatis menyebabkan sekresi yang lebih cair dan saraf simpatis memproduksi saliva yang lebih sedikit dan kental. Sedangkan secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar.

Dalam menangani pasien xerostomia pada penderita hipertensi, terlebih dahulu dilakukan wawancara terhadap pasien dan meninjau ulang obat-obatan yang mereka gunakan, seperti dengan mengubah obat atau dosis untuk memberikan peningkatan aliran saliva.

 

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Xerostomia adalah keluhan berupa adanya rasa kering dalam rongga mulutnya akibat adanya penurunan produksi saliva (hiposalivasi) atau perubahan komposisi saliva. Xerostomia atau mulut kering bukanlah suatu penyakit, tapi kondisi ini sangat menganggu. Terlebih lagi jika penyebab utama berasal dari penggunaan obat antihipertensi. Obat antihipertensi dapat mempengaruhi aliran saliva secara langsung dan tidak langsung. Bila secara langsung akan mempengaruhi aliran saliva dengan meniru aksi sistem syaraf autonom atau dengan bereaksi pada proses seluler yang diperlukan untuk saliva. Sedangkan secara tidak langsung akan mempengaruhi saliva dengan mengubah keseimbangan cairan dan elektrolit atau dengan mempengaruhi aliran darah ke kelenjar.

B. Saran

Penanganan xerostomia berfokus pada tiga area, yaitu dengan menghilangkan gejala, mencegah kerusakan gigi, dan meningkatan aliran air liur. Untuk meringankan gejala xerostomia, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, seperti sering minum untuk menjaga kelembaban mulut. Gunakan pelembab mulut atau pengganti air liur. Hindari makanan asin, makanan kering (biskuit, kue, roti bakar), serta makanan dan minuman dengan kandungan gula tinggi. Hindari minuman yang mengandung alkohol atau kafein karena bisa meningkatkan frekuensi buang air kecil. Hindari merokok. Apabila dalam keadaan terapi obat maka hendaknya perlu mengetahui jenis dan efek dari obat yang digunakan sehingga akan mempermudah proses penanganan bila terjadi xerostomia.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

1.      Lim, Hadyanto. 2009, Farmakologi Kardiovaskuler, Ed. Ke-2, PT. SOFMEDIA, Jakarta.

2.      Fox,P.C. 2008, ‘Xerostomia’, ADH’assosiation, Supplement to Access, hlm. 1-3.

3.      Lewis, M.A.O. 1998, Tinjauan Klinis Penyakit Mulut, Penerjemah : Elly Wiriawan,  Widya Medika , Jakarta.

4.      Indriyani, M. 2010, ‘Penanganan Keluhan Selain Nyeri’, Rumah kanker (Surabaya), 21 September, hlm.2

5.      Guggenheimer, 2003, ‘  Xerostomia : Etiology, recognition and treatment’, J Am Dent Assoc, Vol 134, No 1, 61-69.

6.      Navazesh M., 2003, “How can oral health care providers determine if patients have dry mouth?”, JADA, Vol. 134, hlm.615.

7.      School of Pharmacy and Allied Health Sciences, University of Montana, 2010, 18 Oktober, Helping patients with dry mouth [Homepage of oral cancer foundation.org], [Online]. Available : http//www.oralcancerfoundation.org/dental/xerostomia.htm [19 Oktober 2010].

8.      Lewis, M.A.O. 1998, Tinjauan Klinis Penyakit Mulut, Penerjemah : Elly Wiriawan,  Widya Medika , Jakarta.

9.      Schmitz, Gery. 2008, Farmakologi dan toksikologi, Penerjemah : Luki Setiadi, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.

10.    Bartels, CL, Xerostomia information for dentists

http://www.oralcancerfoundation.org/dental/xerostomia.htm

11.    American Dental Association. The public: Oral health topics: Dry mouth. http://www.ada.org/public/topics/drymouth.html.

12.    Glore RJ, Spiteri-Staines K, Paleri V. A patient with dry mouth. Clin

Otolaryngol. 2009 Aug;34(4):358-63.

13.    Visvanathan V, Nix P. Managing the patient presenting with xerostomia: a review. Int J Clin Pract. 2009 Oct 10.

14.   Fox PC, Cummins MJ, Cummins JM. Use of orally administered anhydrous crystalline maltose for relief of dry mouth. Journal of Alternative and Complementary Medicine 2001; 7: 33-43.

15.  Flynn AA. Counseling special populations on oral health care needs: Patients who are at increased risk for oral disease need to take special care of their teeth. Am Pharm 1993;33:33-39

 
Komentar Dimatikan

Posted by pada Februari 25, 2011 in xerostomia

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.